Dunamis Logo
List of Articles
 
home > knowledge-center > Optimistis di Tengah Kegaduhan

Optimistis di Tengah Kegaduhan

Sunday, 6 March 2016

 

article photo

Oleh : Satyo Fatwan, Managing Partner Dunamis Organization Services


Di Amerika Serikat, pemberitaan sedang riuh dan nyaris berisik. Maklum, mereka sedang bersiap untuk pemilihan presiden. Nah , pemilihan presiden itu berujung kepada strategi kampanye yang membikin gaduh suasana. Kegaduhan itu berimbas kepada ungkapan pesimis di berbagai media, terutama soal perekonomian. Mereka mulai mengeluh bahwa generasi mendatang, para anak cucu itu, akan mengalami masa yang sulit.

Di tengah kegaduhan itu, muncullah surat Warren Bufffet kepada para pemegang saham Berkshire Hathaway. Ini sebenarnya surat tahunan untuk ulasan akhir tahun lalu. Pada intinya ia menampik para ekonom yang berpendapat bahwa perekonomian sedang dalam taraf menyedihkan. Ia jengkel dengan para kandidat presiden yang menjual jargon "betapa payahnya negeri ini dan persoalan-persoalan itu." Ya, itu urusan mereka. Tapi, rakyat punya urusan lain lagi.

"Bayi-bayi yang lahir saat ini adalah generasi yang paling beruntung," kata Buffet. Investor kondang ini menyajikan fakta. Katakanlah pertumbuhan ekonomi cuma 2% setiap tahunnya, dengan memperhatikan pertumbuhan populasi, maka pada 25 ahun mendatang GDP-nya akan naik 34,4%.

Ia lalu menjelaskan kepada para pemegang saham tentang langkah-langkah yang telah ditempuh dalam menangani perusahaan selama setahun terakhir. Ia menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana sehingga akan dipahami dengan mudah. Buffet tidak menggunakan banyak istilah ekonomi yang rumit untuk mengaburkan permasalahan. Tidak! Dia menjelaskan itu untuk meyakinkan orang-orang bahwa ia bisa dipercaya. Ia butuh kepercayaan bahwa ia tahu apa yang telah dilakukannya.
Apakah ia suci dari kesalahan? Tentu tidak. Ia menyebutkan berbagai kesalahan-kesalahan yang ia lakukan tahun ini, termasuk di antaranya menunjuk manajer yang tidak becus. "Saya akan terus melakukan kesalahan, silakan Anda menghitungnya."

Mengakui kesalahan adalah bagian dari upaya seorang pemimpin untuk mendapatkan "trust" (kepercayaan). Buffet seakan menyindir para kandidat presiden yang nyinyir dan berjuang keras untuk tampil seperti malaikat. Manusia adalah manusia, yang memiliki salah dan tidak akan jatuh terjerembab karena berdosa. Buffet adalah tipe pemimpin yang mengutamakan kepercayaan di atas penilaian.

Stephen M.R. Covey pernah mengingatkan betapa pentingnya untuk mendapatkan kepercayaan. Sekarang, coba ingat-ingat, siapakah orang yang paling Anda percayai? Orang yang hadir atau pernah hadir dalam kehidupan Anda itu. Lalu, ingat-ingat apakah dia pernah melakukan salah? Tentu saja. Kesalahan itu buka untuk ditutup-tutupi, akan tetapi untuk diurai solusinya. Pasti ada kekecewaan ketika ada kesalahan. Itu wajar-wajar saja. Tapi, akan lebih mengecewakan apabila kekecewaan itu terus berlanjut karena ditutup-tutupi.

Covey menengarai, dalam buku Speed of Trust, dunia saat ini sebenarnya sedaang krisis kepercayaan. Perekonomian dunia bisa melambat karena urusan kepercayaan ini. Demikian juga dengan perusahaan-perusahaan yang bertindak secara tertutup. Apa jadinya apabila sebuah perusahaan selalu curiga terhadap karyawannya? Bayangkan saja bila itu terjadi sebaliknya, apa jadinya apabila karyawan-karyawan selalu curiga terhadap perusahaannya?

Anda bisa berkilah, sudah puluhan tahun kami menjalankan cara seperti ini. Kami punya cara sendiri. Kami punya rahasia. Benar, bahkan setiap orang juga memiliki rahasia, demikian juga dengan perusahaan. Akan tetapi, kejujuran tidak harus membuka rahasia, bukan? Misalnya ada orang bertanya kepada Anda tentang jumlah rekening tabungan, apa yang Anda lakukan? Kalau Anda menjawab terus terang, kemungkinan juga orang akan terbelah menjadi dua: percaya dan tidak percaya. Kalau Anda menjawab, "itu rahasia," sudah semestinya orang lain memakluminya. Itu yang disebut kejujuran. Lain perkara kalau terlalu banyak hal yang rahasia seperti badan intelejen negara. Itu sudah kejadian luar biasa yang harus ditangani dengan cara yang luar biasa pula.

Belajar dari Warren Buffet tadi, bisa dikatakan bahwa ia memulai dengan optimisme. Ia ingin para investor tersenyum dulu, lepaskan mereka dari hiruk pikuk politik. Rasa optimistis itu menjadi pijakan untuk memberikan kepercayaan lebih tentang masa depan perusahaan. Rasa optimistis itu pula yang kita butuhkan sekarang, di Indonesia. Selamat menginspirasi sesama!