Dunamis Logo
List of Articles
 
home > knowledge-center > Ketika Kepercayaan Dipertaruhkan

Ketika Kepercayaan Dipertaruhkan

Monday, 11 April 2016

 

article photo

Oleh : Dunamis Organization Services


Jadi pemimpin itu harus "telanjang". Demikian pernyataan Dov Baron dalam buku Fiercely Loyal. Telanjang di sini berarti apa adanya dan juga ringkih (vulnerable). Baron mengungkapkan hal ini karena tren di Generasi Milenial menunjukkan bahwa mereka percaya kepada pemimpin yang manusiawi dan bisa dipercaya. Mereka tidak membutuhkan pencitraan yang berlebihan. Yang mereka butuhkan adalah kepercayaan untuk bisa bekerja sama.

Di antara sekian banyak sikap skeptis terhadap generasi pekerja baru itu, banyak pula pelajaran yang bisa kita dapat dari mereka. Inilah generasi yang menjunjung tinggi kebersamaan dan kepercayaan. Untungnya, dua hal itu bisa dibangun asalkan direncanakan dengan baik.

Sebenarnya, kepercayaan bukan hanya kebutuhan Generasi Milenial semata. Generasi X dan Baby Boomers juga tentu membutuhkan. Yang berbeda adalah aktualisasinya dari sesuatu yang kita sebut kepercayaan (trust).

Riset dari Interaction Associates menyebutkan 60% dari pekerja tidak percaya kepada perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka tidak percaya kepada pemimpin-pemimpin dalam organisasi itu. Itu artinya, para pekerja itu memiliki kemungkinan yang besar untuk pindah ke perusahaan lain. Riset yang dilakukan selama enam tahun itu mengingatkan para pemimpin untuk mulai berbenah diri apabila tidak ingin organisasi mereka runtuh karena ketidakstabilan pekerja.

Jauh-jauh hari, Stephen MR Covey sudah mengingatkan kita tentang kepercayaan ini. Dalam buku The Speed of Trust, ia menunjukkan bahwa dunia sedang dalam masa krisis kepercayaan. Perusahaan-perusahaan besar bisa runtuh tiba-tiba bila kepercayaan itu tidak dijaga. Kepercayaan itu harus tumbuh dan dibangun secara organik dan tidak bisa kita harapkan datang tiba-tiba seperti sebuah keajaiban. Kita tidak bisa mendapatkan kepercayaan dengan duduk diam tanpa melakukan apa pun, apalagi hanya berbekal nama besar.

Kepercayaan datang dari pimpinan yang kompeten akan tetapi bukan sosok dewa yang tidak pernah salah. Ada mekanisme resiprokal antara pemimpin dan anggota tim, antara pekerja dan jajaran puncak organisasi.

Riset menunjukkan, organisasi yang kolaboratif lebih kondusif terhadap trust dibandingkan dengan organisasi kompetitif. Generasi X dan Generasi Baby Boomers lebih terbiasa dengan iklim kompetitif. Mereka terbiasa meraih kebanggaan dengan memajang piala di ruang keluarga. Generasi sekarang, mereka tidak lagi melihat trofi sebagai pencapaian puncak. Lihat saja, saat ini kita sudah terlalu biasa melihat trofi untuk acara tingkat TK yang sekadar kompetisi anak-anak sekelas. Trofi tidak lagi sesakral dahulu. Ijazah juga tidak semenarik dulu lagi. Terlalu sering kita mendengar Si A lulusan Amerika, Si B lulusan Jepang. Lain halnya dengan dua dekade sebelumnya di mana hal semacam itu seperti sebuah stempel digdaya yang tak terbantahkan.

Efeknya, di dalam lingkup organisasi, orang-orang juga tidak lagi merasa harus hebat sendirian. Mereka mengembalikan fungsi trofi kepada esensi awalnya: penghargaan. Organisasi yang menghargai karyawan akan menjaga tingkat kepercayaan mereka. Penghargaan itu harus ada di setiap level dalam perusahaan.

Hal-hal itu sepertinya mudah saja ketika kita bicarakan. Dalam pelaksanaannya, jauh panggang dari api. Jauh pelaksanaan dari perencanaan. Banyak perusahaan yang terlalu berkonsentrasi terhadap perolehan akan tetapi mengabaikan tentang tingkat kepercayaan. Hal-hal seperti ini tidak terdefinisikan dalam perencanaan tahunan.

Padahal, ada banyak aspek yang bisa dibedah untuk meningkatkan kepercayaan dalam organisasi. Yang kita butuhkan adalah niat, perencanaan, dan pelaksanaan yang konsisten. Banyak survei menunjukkan bahwa dengan meningkatkan tingkat kepercayaan, akan berefek pada naiknya margin keuntungan dengan iklim kerja yang lebih kondusif. (D)