Dunamis Logo
List of Articles
 
home > knowledge-center > Menyulut Ide Internal

Menyulut Ide Internal

Sunday, 24 April 2016

 

article photo

Oleh : Satyo Fatwan, Managing Partner Dunamis Organization Services


Seorang perajin gerabah di pelosok, bisa saja berkata, "kami hanya pemain lokal, tidak usah ikut ribut-ribut soal globalisasi."Masalahnya, perekonomian dunia saat ini menuntut semua orang untuk merayakan pasar global itu. Apa yang kita hadapi saat ini "masih" sebatas masyarakat ekonomi ASEAN. Lingkupnya kecil dan masih banyak yang santai-santai saja. Seakan-akan kebijakan regional itu sekadar ketok palu undang-undang baru lalu tidak terjadi apa-apa. Mereka nyaman dengan gaya lama dan produk yang itu-itu saja.

Di beberapa negara ASEAN, mulai banyak orang yang belajar bahasa Indonesia, selain bahasa Inggris. Indonesia menjadi incaran menarik karena wilayahnya luas dengan potensi alam serta bisnis yang menjanjikan. Bisa jadi yang mereka incar "sekadar" profesi tukang ojek atau menjual camilan untuk anak-anak. Bisa juga yang mereka incar adalah kapital besar di bisnis keuangan.

Yang menarik di sini adalah, begitu mudahnya beberapa "orang asing" yang bertetangga dengan kita itu membuat kesimpulan bahwa Indonesia adalah ladang yang potensial. Sementara, orang-orang di Indonesia sendiri lebih sering mengeluhkan peluang bisnis dan pekerjaan yang semakin menipis. Seakan-akan, pekerjaan di Indonesia sudah habis. Banyak juga yang memilih untuk kerja di negeri Jiran untuk menjadi pekerja pabrik atau asisten rumah tangga.

Dalam lingkup organisasi, banyak pemimpin yang giat mendorong anggotanya untuk mengajukan ide-ide. Mereka sudah berkata, "ayo sampaikan ide-ide kreatif kalian!" Jawabnya, mereka lebih memilih diam dan membenamkan ide-ide yang ada di sudut ingatan. Begitu perusahaan itu meminta konsultan dari luar, orang-orang protes. "Itu sih sudah kami pikirkan juga, tapi belum sempat kami sampaikan."

Bisa jadi ini soal komunikasi. Tapi yang jelas, kita juga akan bisa merasakan bahwa hal ini erat hubungannya dengan kultur organisasi. Anda pasti tahu bahwa ada perusahaan yang cenderung formal, ada yang kasual, atau mungkin bahkan brutal. Apapun gaya berkomunikasi dalam sebuah organisasi. bukanlah sesuatu yang tidak bisa dirancang atau diarahkan. Menyulut potensi-potensi dari dalam merupakan tantangan yang tidak mudah. Menyampaikan ide-ide baru tidak hanya persoalan kreativitas individu per individu, akan tetapi juga soal cara menampaikan yang tepat. Beberapa riset yang dilakukan oleh VitalSmart menunjukkan, banyak persoalan-persoalan gawat terjadi karena cara berkomunikasi yang tidak tepat.

Perusahaan dari Amerika Serikat itu kemudian merumuskan, komunikasi di saat-saat genting harus dilakukan dengan cermat. Silakan baca buku Crucial Conversation dan Crucial Accountability . Dua-duanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di sana dipaparkan bagaimana para pemimpin tertentu bisa menangani saat-saat genting itu dengan baik. Kita biasa menyebutnya sebagai pemimpin kharismatik. Orang yang terlahir sebagai pemimpin. Orang biasanya berhenti di titik itu. Padahal, komunikasi adalah skill atau ketrampilan yang bisa dipelajari. Sama halnya dengan kreativitas. Banyak organisasi yang memunculkan ide-ide cerdas, dan percayalah, itu bukan semata-mata mereka beruntung mendapatkan pemimpin dan karyawan berbakat. Kadang hal itu terjadi lebih karena mereka tahu bagaimana cara panen ide dari para karyawan. Begitu tahu caranya, langkah selanjutnya tidaklah sesulit ang Anda bayangkan.