Dunamis Logo
List of Articles
 
home > knowledge-center > Lupa Kinerja

Lupa Kinerja

Monday, 13 June 2016

 

article photo

Oleh : Dunamis Organization Services


Anda masih ingat dengan ulasan (review) kinerja yang Anda berikan kepada anggota tim Anda? Apa yang Anda ingat dari ulasan itu? Mungkin, di satu titik, beberapa pemimpin bahkan memutuskan untuk tidak melakukannya. Beberapa pemimpin bahkan menganggap itu pekerjaan sia - sia. Setiap tahun diberi tahu dan orang itu tidak juga berubah. Seolah, itu hanya deja-vu ritual tahunan.

Riset yang dilakukan oleh VitalSmart menunjukkan, hanya sepertiga dari karyawan yang memperhatikan performance review. Sisanya? Tak ada tanda-tanda bahwa ulasan kerja itu memiliki dampak signifikan. Bahkan, sebanyak 87% responden mengakui, setelah ulasan negatif yang didapatkan, tidak ada perencanaan untuk mengubah kritikan itu untuk diperbaiki. Ada banyak sebab mengapa mereka seakan tidak acuh terhadap kinerja. Riset yang dilakukan VitalSmart itu juga menunjukkan bahwa pemimpin cenderung untuk memberikan kritikan dan memberi sedikit ruang untuk mendiskusikan perbaikan. Dari riset ini juga ditemukan bahwa masalah terbesar yang dihadapi karyawan adalah: mereka tidak tahu cara untuk memperbaiki kinerja.


Kemampuan berkomunikasi dan perencanaan seorang pemimpin dipertaruhkan dalam hal ini. Terlalu lazim terjadi bahwa tugas pemimpin sekadar memberi kritikan dan setelah itu tinggal menanti perbaikan. Idealnya, memang begitu apabila karyawan Anda adalah anggota tim pilihan yang cerdas dan juga bisa menebak jalan pikiran Anda. Kenyataannya, tim terdiri dari orang-orang dengan beragam latar cerita. Namanya juga kehidupan, selalu ada kisah di balik kisah. Dan seorang pemimpin pun juga tidak lepas dari ulasan kerja pula.

Ada beberapa saran yang bisa Anda lakukan dalam hal ini.

1. Masukan yang detail
Seringkali karyawan enggan bertanya secara detail tentang ulasan kerja. Demikian juga, seorang pemimpin juga tidak tahu detail mana yang diperlukan. Dalam hal ini, perlu dilakukan komunikasi yang lebih intens untuk menyamakan fakta dan menghindari persepsi yang salah arah. Persiapkan data-data berupa informasi yang bisa menunjang fakta yang terjadi. Biasakan untuk membuat catatan-catatan itu agar ketika dibutuhkan Anda tidak terkesan mengada-ada.

2. Skenario kegagalan
Penting untuk membayangkan skenario kegagalan. Hal ini untuk memotivasi tindakan yang perlu dilakukan agar tidak terjerembab ke permasalahan yang sama setiap tahun. Seorang pemimpin perlu mengingatkan kepada anggota tim terhadap risiko-risiko yang terjadi dalam kegagalan pekerjaan. Visualisasi ini akan membantu seseorang menghadapi "ancaman terburuk" dalam kinerja yang buruk.

3. Berinvestasi untuk kinerja lebih baikKebiasaan baru biasanya membutuhkan skill baru. Itu adalah investasi untuk perbaikan kinerja. Seorang pemimpin harus memiliki peta kompetensi anggota tim, baik soft skill maupun hard skill. Buatlah perencanaan pelatihan yang dibutuhkan untuk memperbaiki kinerja yang buruk. Langkah ini menjadi krusial karena berdasarkan kinerja, seorang pemimpin bisa merencanakan pelatihan yang tepat. Sebaik apapun sebuah pelatihan, apabila diberikan kepada orang yang tidak tepat, bisa membuat berantakan. Ini semacam obat yang tepat bagi pasien yang tepat.

4. Mentor
Percayalah, mentor itu dibutuhkan dalam hal coaching. Seorang pemimpin adalah coach secara struktural. Namun, seorang pemimpin bisa menunjuk atau mengalihkan tugas kepada orang lain apabila memang diperlukan. Mengubah kebiasaan itu membutuhkan mentor.

5. Buat aturan main
Seperti sebuah permainan, Anda membutuhkan  aturan main. Aturlah serangkaian aturan dengan sistem reward and punishment secara sederhana. Misalnya, kalau Anda meraih sasaran kerja, beri hadiah pada diri sendiri. Tidak perlu besar, misalnya saja "bersantai di kafe di Jumat malam". Kalau gagal, hukum juga diri sendiri. Contoh hukuman sederhana adalah "bangun pagi bahkan pada hari libur."

6. Atur suasana kerja
Penting untuk mengubah dan mengatur suasana kerja. Hal ini perlu kerja sama dengan anggota tim yang lain. Suasana kerja yang mendukung akan memperlancar kebiasaan yang baru.

7. Biasakan untuk terbuka
Kalau memang berlaku baik, tidak ada salahnya agar anggota tim lain juga tahu. Hal ini untuk transparansi dan membentuk suasana kerja yang positif. (D)