Dunamis Logo
List of Articles
 
home > knowledge-center > Petani Jagung Dan Kualitas Perusahaan

Petani Jagung Dan Kualitas Perusahaan

Thursday, 22 September 2016

 

article photo

Oleh : Amman Wahju, Consultan, Dunamis Organizational Alignment


Berapa waktu yang lalu, saya menerima kiriman inspiratif melalui WhatsApp. Kisah ini, sebagaimana biasa, penulis aslinya tidak tercantum. Kisah tersebut mengenai seorang petani jagung di satu desa di Osaka, Jepang. Petani itu seringkali memenangkan penghargaan dengan jagung terbaik sepanjang musim.

Seorang wartawan dari  koran lokal tergelitik untuk mencari tahu rahasia kesuksesannya. Ternyata, petani itu selalu membagikan benih jagung unggulan miliknya kepada para tetangga. "Mengapa Anda berbagi benih jagung unggulan milik Anda dan kemudian bersaing dengan benih yang sama setiap tahunnya?" tanya wartawan itu.


"Anda tahu bahwa angin menerbangkan serbuk  sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, maka saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula" jawab petani itu.

Petani ini sangat menyadari hukum "keterhubungan" (law of attraction) dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya tanpa jika mengabaikan tetangganya.

BUDAYA BELAJAR DALAM KOMPETISI

Kisah di atas mengingatkan saya pada apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang mengikuti program MAKE (Most Admired Knowledge Enterprise) study. Program yang diselenggarakan oleh Dunamis Organisation Services sejak tahun 2005 ini adalah contoh budaya berbagi seperti petani jagung tadi. Salah satu tujuan (dan masuk dalam kriteria MAKE, yaitu bahwa perusahaan tersebut memberlakukan budaya belajar dan berbagi, baik untuk internal maupun eksternal.

Budaya ini terlihat dari mulai tahap awal saat mana peserta mempresentasikan apa yang dilakukan perusahaannya sebagai knowledge based organization. Presentasi ini dilakukan di depan para panelis yang merupakan pimpinan dari perusahaan yang menerapkan knowledge management, para akademisi, dan juga pimpinan SDM.



BERANI UNTUK BERBAGI

Satu-persatu peserta mempresentasikan knowledge profile perusahaannya. Para panelis melanjutkan sesi tanya-jawab untuk pendalaman. Tapi MAKE bukan kompetisi egois yang tujuannya untuk saling manjatuhkan, para panelis memberikan masukan-masukan berdasarkan pengalaman implementasi knowledge management di perusahaannya.

Karena keterbatasan waktu di sesi presentasi, para panelis juga diundang untuk melakukan kunjungan ke perusahaannya. Selain untuk memberikan penilaian lebih objektif juga untuk mengetahui apa yang dilakukan dengan lebih detail dan melihat fakta di lapangan. Tidak ada ketakutan bahwa kompetitor akan mencontek 'rumus sukses' mereka. Mereka sadar, setiap organisasi memiliki resep masing-masing bergantung kepada kondisi dan budayanya sendiri.


Dari beberapa kali mengikuti kegiatan ini saya merasakan semangat berbagi dan belajar dari kedua belah pihak yang sangat kental dan dilakukan dengan tulus. Lebih dari itu, mereka juga saling membuka pintunya untuk melakukan benchmarking.

Apakah perusahaan yang berbagi takut ilmunya ditiru? Saya tidak melihat itu. Mereka mempersilakan mereka untuk melakukan apa yang diajarkan pujangga Ronggowasito: "niteni" (mengamati) apa yang mereka lakukan, "niroake" (meniru) dan "nambahi" (menambahi sesuai dengan kondisi  perusahaannya).

Sebagaimana halnya petani jagung tadi, perusahaan tidak dapat meningkatkan kualitas perusahaannya jika dia tidak belajar dan membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama. Dengan saling membantu akan tercipta iklim kondusif untuk melakukan peningkatan yang berkesinambungan.