Dunamis Logo
home > knowledge-center > Whitepapers and Success Stories > Menemukan Apa Yang Betul-Betul Anda Inginkan

Menemukan Apa Yang Betul-Betul Anda Inginkan

Monday, 14 January 2013

 

article photo

Oleh : Michele Wilson|VitalSmarts


"Hubungan saya dengan suami dan keluarga betul-betul diubahkan, karena di tengah percakapan yang sulit dan krusial, saya mau berhenti dan bertanya pada diri sendiri, 'Apa yang betul-betul saya inginkan?'" -Michele Wilson, Dayton, Ohio, USA


Baru-baru ini saya dan suami membuat keputusan untuk pindah ke lingkungan baru sehingga anak-anak kami bisa pergi ke sekolah bersama-sama dengan anak-anak yang tinggal di lingkungan kami. Saat itu kami tinggal di tengah kota dan anak-anak kami belajar di salah satu sekolah swasta. Teman-teman sekelas mereka berasal dari berbagai penjuru kota dan itu membuat mereka kesulitan untuk bersahabat erat dengan teman-temannya. Hal itu juga menyulitkan kami sebagai orang tua dalam menjalin hubungan dengan orang tua murid lainnya.

Kami telah melihat setidaknya selusin rumah sebelum memutuskan untuk pindah. Kami melihat sebuah rumah dan saya menyukainya. Kami melihat rumah itu dua kali untuk memastikannya. Saya pikir rumah itu sempurna bagi kami, tapi suami saya tidak yakin. Ia tidak suka lokasi rumah dan ia terus mencari alternatif rumah yang lain.

Suatu malam ketika saya sedang dalam perjalanan pulang setelah mengajar training Crucial Conversation, saya mendapat telepon dari agen makelar kami yang memberitahukan bahwa pemilik rumah saat ini sedang membuat tawaran yang sangat menarik, bahkan mau memberikan potongan harga.

Meskipun saya baru saja mengajar training Crucial Conversation, saya tidak segera menerapkannya. Sebaliknya, saya tiba di rumah seakan dipersenjatai dengan informasi itu, membujuk suami saya untuk mengambil tawaran itu. Saya terkejut dengan responnya. Ia tidak seantusias saya. Malah kami lalu memperdebatkannya.

Sementara saya mengutarakan berbagai alasan mengapa kami harus membeli rumah itu, sebaliknya ia pun mempunyai sejumlah argumen bahwa rumah itu tidak cocok bagi kami. Rasanya seperti ada jurang pemisah yang lebar antara kami, dan kami menghabiskan waktu berjam-jam dalam argumen kami masing-masing tanpa berupaya mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Kami pun kelelahan dari diskusi tegang itu yang pada akhirnya merusak hubungan kami.

Saat kelelahan, kami pun terdiam dan tiba-tiba terlintas dalam benak saya akan materi training Crucial Conversation: "Mengapa kami melakukan ini?" Dan, "Apa yang sesungguhnya kami inginkan?" Saya bertindak seperti semata ingin memenangkan argumen ini. Tetapi yang kami inginkan sebenarnya adalah memindahkan keluarga ke dalam suatu komunitas yang baik sehingga anak-anak bisa belajar dengan teman-teman mereka. Ini keinginan seluruh anggota keluarga yang saya cintai, bukan hanya ego saya memenangkan debat ini.

Saya pun berpaling kepada suami dan mengatakan kepadanya apa yang benar-benar saya inginkan, lalu saya bertanya padanya, "Jadi kamu benar-benar tidak menyukai rumah ini?" Ia kembali mencatatkan alasan mengapa ia tidak menyukainya, dan kali ini saya mendengarkannya. Kami pun membuat keputusan dan menelpon agen makelar bahwa kami tidak menerima tawaran tersebut.

Beberapa bulan kemudian, kami menemukan rumah yang kami berdua sukai, dan kami yakin itu rumah yang tepat bagi kami sekeluarga. Selain itu, hubungan saya dengan suami dan keluarga telah sangat meningkat karena di tengah percakapan yang sulit dan krusial, saya bersedia untuk berhenti dan bertanya pada diri sendiri, "Apa yang sesungguhnya saya inginkan?"


Michele Wilson
Dayton, Ohio, USA

Dikutip dari:
http://www.vitalsmarts.com/casestudies/personal-relationships-discovering-what-you-really-want/