Dunamis Logo
home > knowledge-center > Whitepapers and Success Stories > Kecanduan Urgensi - Ancaman Baru Produktivitas

Kecanduan Urgensi - Ancaman Baru Produktivitas

Thursday, 12 September 2013

 

article photo

Oleh : Franklin Covey Co.


Sepertinya Anda enggan menyelesaikan membaca newsletter ini. Penasaran dengan pernyataan ini?

Mungkin Anda harus menjawab sebuah SMS, mengecek telpon seluler, membalas e-mail, sedang memadamkan “api”, atau harus berdiskusi dengan rekan kerja yang tiba-tiba menggelitik Anda dengan sebuah pertanyaan.

Sempatkah Anda mengalami situasi ini? Terasa begitu sulit menyelesaikan sesuatu?

Dalam sebuah riset selama tujuh tahun dengan lebih dari 400.000 partisipan, FranklinCovey menemukan bukti bahwa para pekerja saat ini jauh lebih mudah teralihkan perhatiannya dari pada sebelumnya, membuang banyak waktu, dan secara kontinu bekerja dalam kondisi krisis. Hasilnya? Kita menginvestasikan sangat sedikit energi dan pikiran di pekerjaan yang sesungguhnya.

Mari kita lihat data - data berikut ini:

54% - dari responden menggunakan sebagian besar waktunya pada aktivitas yang menuntut perhatian segera . Sayangnya aktivitas tersebut hanya memiliki sedikit relevansi pada hal-hal yang masuk dalam prioritas skala tinggi (misalnya: interupsi yang tak perlu, rapat tidak penting, panggilan telepon dan email yang tidak perlu)

55% - responden berkata bahwa tuntutan orang-orang lain menuntut mereka untuk terus bergerak ke tujuan dan objektif yang kritis.

54% - terus menerus menyelesaikan pekerjaan yang penting untuk orang lain tapi tidak untuk diri mereka sendiri.

28% - merasa sibuk seharian namun hanya sedikit berkontribusi kepada prioritas paling penting di organisasi mereka.

Para responden juga menyebutkan bahwa mereka menggunakan lebih dari separuh waktu kerja yang tidak relevan atau tidak penting karena adanya oleh tekanan orang lain. Lebih dari satu dari empat responden merasakan situasi "sangat sibuk" (rush mode), berusaha untuk menyelesaikan semua pekerjaan tetapi tak ada yang benar-benar berhasil.
 

MENGAPA MASALAH INI BISA TERJADI?

Saat ini kita boleh dibilang sedang mengalami apa yang disebut dengan "urgency addiction" (kecanduan urgensi). Dering telpon yang tiada henti dan nada menderu dari pesan yang datang, semuanya menempatkan kita pada situasi untuk segera merespon segala hal. Otak kita yang secara konstan diinterupsi dengan hal ini akan terbiasa dan bahkan mengharapkannya.


WAKTU TERBUANG UNTUK "MEMADAMKAN API"

Konsekuensi menjengkelkan dari candu urgensi ini adalah kita menggunakan banyak waktu dalam hidup kita untuk "memadamkan api." Hal paling darurat menjadi perhatian kita dan kita terbiasa berlarian dari "api" satu ke lainnya.


54% - responden selalu berada dalam saat "memadamkan api" dan bekerja dalam mode krisis.

35% - responden seringkali diminta untuk datang di saat-saat terakhir (last minute) dan membantu proyek utama.

Manakala Anda secara konstan bekerja dalam kondisi mode krisis maka tingkat stress Anda akan naik sementara di satu sisi kualitas berpikir Anda akan mengalami penurunan. Hingga akhirnya muncullah perasaan yang cukup akrab, "Saya tidak bisa mencapai hasil maksimal di semua pekerjaan saya."


SEDIKIT WAKTU TERSISA UNTUK HIDUP PENUH MAKNA

Candu urgensi menyebabkan kita bekerja secara terus menerus mengingat begitu banyak "api" yan menyala di sekeliling kita. Kecanduan ini berdampak buruk pada kehidupan pribadi.


44% - menggunakan akhir pekan mereka untuk "memulihkan diri" dari kelelahan saat hari-hari kerja, dengan sedikit waktu tersisa untuk aktivitas akhir pekan yang lebih bermakna.

20% - menggunakan waktu pribadi mereka untuk bekerja, memeriksa email sampah, menonton televisi secara berlebihan, berselancar tidak jelas di internet, bermain game, dll.

32% - membuang waktu selama beberapa jam di depan televisi atau berselancar internet


WAKTU TERBUANG BERNILAI MILIARAN

Seberapa banyak uang terbuang karena kecanduan urgensi inii?

Di Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada), kecanduan akan urgensi sesaat yang dialami karyawan menyebabkan pemilik perusahaan merugi $134 miliar dalam hal produktivitas. Di Australia, kerugiian diperkirakan mencapai $87 miliar, sedangkan perusahaan-perusahaan Inggris melaporkan angka kerugian sebesar £80.
 
Pertanyaan untuk Renungan:
Apa yang akan terjadi di masa depan bila waktu yang terbuang terus bertambah? Apa dampaknya bila orang-orang hanya membuang waktu separuh dari apa yang mereka buang sekarang? Bagaimana jika semua rapat hanya sepertiga lebih produktif dari sekarang? Bagaimana jika orang-orang menggunakan dua pertiga waktu mereka secara khusus untuk hal yang memang penting bagi organisasi daripada membuang separuh waktu mereka untuk urgensi sesaat?
 

© Franklin Covey Co. All rights reserved.